12 fan ilmu santri
Untukmendapatkan sebuah ilmu, terdapat berbagai jalan yang dapat ditempuh. Jalan pertama yaitu ditempuh dengan usaha keras. Dalam hal ini, para santri diharuskan berusaha keras untuk mendapatkan ilmu. Mereka harus memiliki banyak waktu yang digunakan untuk belajar, menelaah, serta mengulang-ulang kitab-kitab yang telah dipelajari agar tidak lupa.
Halini dikarenakan ilmu sendiri berperan penting dalam peradaban manusia. Dikutip dari wikipedia, Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para siswanya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan guru yang lebih dikenal dengan sebutan kiai dan mempunyai asrama untuk tempat menginap santri.
Santri adalah kekuatan bangsa, teruslah percaya diri dengan berbagai ilmu yang dimiliki, baik ilmu akhlak maupun ilmu lain, seperti keahlian dan keterampilan. Hal ini sangat penting, terutama saat meniti karier nanti,” kata Hendi. Hendi berharap santri dapat menjadi kekuatan untuk menjaga NKRI dan Pancasila.
SANTRIWAH-OEM COMUNITY Sabtu, 16 Juli 2011. ILMU NAHWU / SHARAF (ALAT) Lebih baik menghalangi kesalahan, daripada keliru menggunakan ro’yu, atau berupaya sungguh-sungguh memahami fan ilmu alat / shorof dahulu, Binanya ada 12. Wazan = Timbangan, Ukuran, Cetakan, Acuan, Referensi. Istilah yg dipakai dalam ilmu shorof untuk
A Sejarah Pondok Pesantren Nurul Huda Pada tanggal 12 Desember 2009 recara resmi Pondok Pesantren Salafiah Nurul Huda diresmikan oleh Bupati Malang Bapak H Rendra Kresna. Pondok pesantren ini berdiri atas inisiatif dari Bapak KH. Masykur Hafidh bersama istri Ibu Hj. Nur Hidayati dan didukung oleh Bapak H. Nur Salim perintis pendidikan Nurul Huda bersama
Bayi Tidak Mau Menyusu. kitab dasar-Di Pesantren tentunya kita memeplajari ilmu-ilmu agama yang mana referensi nya sesuai dengan syariat ajaran agama Kuning adalah menjadi bahan pembelajaran yang menarik, dan menjadi rujukan utama pembahasan di seluruh pesantren indonesia, kecuali pesantren yang khusus kitab kuning kini usianya sudah ratusan tahun, karena pengaranya merupakan ulama-ulama salaf yang sudah masyhur tingkatan tingkatan-tertentu untuk dipelajarinya mulai dari Dasar atau pemula, menengah dan sampai tingkat ini kita bahas kitab-kitab Dasar Pesantren, apa saja kah kitab-kitab tersebut langsung saja 1. KITAB AL-JURUMIYAH Kitab yang pertama yaitu kitab Al-Jurumiyah, fan ilmu nahwu, yaitu suatu ilmu yang mempelajari tentang akhir kalimat bahasa arab agar terjaga dari santri yang ingin bisa membaca kitab kuning yang tulisan nya gundul alias tidak wajib kita mempelajari ilmu kitab ini sebagai dasar untuk para pemula yang baru belajar kitab, supaya bisa membacanya dengan baik dan ini dikarang oleh syekh Sonhaji, menjelaskan setiap bab dengan bahasa yang praktis dan sangat mudah untuk selesai pembahasan dari kitab ini biasanya dilanjutkan kitab selanjutnya mutamimah, imrithi, dan yang paling tinggi adalah kitab Alfiyah Ibnu KITAB MATAN BINA WAL ASASYang kedua yaitu kitab Matan Bina Wal Asas, salah satu kitab dari fan shorof untuk mengetahui perubahan-perubahan kalimat bahasa fan shorof ini masih ada kaitanya juga dengan fan nahwu, jika di ibaratkan nahwu bapaknya dan shorof ibu nya jadi sangat kitab ini yaitu syekh Ibrohim bin Abdul Wahab bin Imaduddin al-Ma’ruf3. KITAB AMTSILAH TASHRIFIYAHKitab ini berisi tashrif kata dalam bahasa arab sama seperti kitab matan bina wal asas membahas tentang ilmu Amtsilah ini dikarang oleh salah satu ulama Indonesia, beliau KH. Ma’shum Aly dari Jombang. Kitab tersebut sangat mudah dihafalkan karena disusun secara rapi dan bisa dilagukan dengan KITAB AL-AQIDATUL AWAMkepercayaan atau aqidah adalah pokok utama atau sebagai hal yang mendasar dalam hati manusia. Apabila aqidah sudah mantap, kuat dan benar maka dalam menjalani syariat agama tidak akan menyeleweng dari aturan syariat yang telah dasar aqidah ini yang dipelajari dipesantren adalah kitab Aqidatul Awam karangan Syaikh Ahmad Marzuqi Al-Maliki berisi 57 bait ini membahas tentang aqoid 50, keluarga Nabi, Malaikat, dan mukjizat-mukjizat yang harus kita atas perintah Rasulullah yang mendatangi sang pengarang melalui mimpinya. Hingga beliau mampu menyelesaikan kitab KITAB MATAN SAFINATUNNAJAHSafinatun Najah adalah sebuah kitab ringkas mengenai dasar-dasar ilmu fikih menurut mazhab Syafi’i. Kitab ini ditujukan bagi pelajar dan pemula sehingga hanya berisi kesimpulan hukum fikih saja tanpa menyertakan dalil dan dasar pengambilan dalil dalam penetapan begitu masih terdapat beberapa permasalahan fikih yang tergolong ikhtilaf di kalangan ulama ahli fiqih antar mazhab bahkan di kalangan ulama mazhab Syafi’i sendiri, sehingga diperlukan kesungguhan atau panduan dalam memilih pendapat yang lebih tepat rajih sesuai dengan Al-Qur’an dan ini ditulis oleh Salim bin Sumair al-Hadhrami seorang ulama asal Yaman yang wafat di Jakarta pada abad ke-13 H. Kitab ini populer di kalangan pondok-pondok pesantren Nahdliyyin dan masuk sebagai salah satu materi kurikulum KITAB MUSTOLAH HADISKitab dasar selanjutnya adalah Kitab Mushtholah Al-Hadits yang mempelajari ilmu mengenai seluk beluk ilmu hadits. Mulai dari macam-macam hadits, kriteria hadits, syarat orang yang berhak meriwayatkan hadits dan lain-lain dapat dijadikan bukti kevalidan suatu matan ini dikarang oleh al-Qodhi abu Muhammad ar-Romahurmuzi yang mendapatkan perintah dari Kholifah Umar bin Abdul Aziz karena pada waktu itu banyak orang yang meriwayatkan hadist-hadist KITAB HADIS ARBAINArbain Nawawi atau Al-Arba’in An-Nawawiyah merupakan kitab yang memuat empat puluh dua hadits pilihan yang disusun oleh Imam ada dua ulama yang bernama Nawawi ada Imam Nawawi Abu Zakaria Muhyuddin An-nawawi ada juga syekh Nawawi Tanara Al-Bantani Al-Jawi dari indonesiaArba’in berarti empat puluh namun sebenarnya terdapat empat puluh dua hadits yang termuat dalam kitab kitab ini sebagai dasar dari fan ilmu KITAB TA’LIMUL MUTAALIMDan yang rakhir yaitu dari fan Ilmu Akhlak, karena dalam dunia santri akhlak yang terpuji menjadi nomor satu akhlakul Ta’limul Muta’alim ini menjelaskan tentang thoriqutaalum atau jalan untuk belajar supaya hasil ilmu yang manfaat dan dasar yang menerangkan mengenai akhlaq di dunia pesantren adalah kitab Ta’limul-Muta’alim karangan Syaikh Burhanuddin awal proses belajar di pesantren sesuai adatnya pasti mempelajari kitab ini ataupun kitab lain yang seakar dengan Ta’limul Muta’ kitab Adabul alim wal Muta’alim karangan ulama’ besar Indonesia, Pahlawan Nasional sekaligus pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama, Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ kitab ini pun juga menjadi kurikulum wajib bagi pesantren yang ada di Indonesia bahkan hingga luar kaya khazanah ilmu pengetahuan Islam yang ada di dunia pesantren. Ada sekitar 200 judul kitab dipelajari di pesantren menurut data yang pernah dikemukakan oleh Gus pesantren terus berupaya agar kebudayaan pesantren ini dapat eksis di tengah perubahan zaman dan kebudayaan salaf ini mampu menunjukkan kiprah para ulama sebagai warotsatul ambiya’ pewaris para Nabi. Wallahua’lam Juga Arkanul Islami Rukun-Rukun Islam
© 2021 Radar Garut - Jabar Ekspres Network JEN All Right Reserved.
Pada Muqoddimah pembahasan Basmallah pernah disinggung tentang Fan Ilmu yang 12. Kali ini saya akan mencoba menguraikan tentang apa saja komponen dari 12 fan ilmu tersebut beserta penjelasannya. Semoga artikel ini setidaknya mampu memberi gambaran tentang 12 fan ilmu yang masyhur di dunia Pesantren Salaf ga tau sih kalo pesantren lain, untuk pesantren saya sangat masyhur meski yang dipelajari hanya sebagian kecil dar i 12 fan ilmu yang ada. 12 fan ilmu dirangkum dalam sebuah nadzom. Berikut adalah Nadzomnya صرف بيان معانى نحو قفية * شعر عروض إشتقاق خط إنشاء مناظرة والثانى عشرها لغة * تلك العلوم لها أداب الأسماء 1. Shorof Ilmu ini membahas tentang morfologi suatu kalimah kata dalam bahasa arab. Perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain untuk menghasilkan ma’na yang dimaksud. Contoh dari Fi’il kata kerja Madli ke bentuk Fi’il Mudlori’, Mashdar kata benda, Isim Fa’il pelaku, Isim Maf’ul kata benda objek, dan lainnya. Kitab Kuning yang biasanya digunakan untuk mempelajari ilmu ini adalah Al Amtsilatut tashrifiyyah, Kailany, Fathul Khobirul Latif, Nadhm Maqshud, Zanjani, dan lain-lain. 2. Bayan Lebih sukar dari ilmu Shorof, ilmu ini membahas tentang majas dan perumpaman dalam bahasa arab. Seperti halnya ilmu Shorof, ilmu ini juga hanya membahas satu kalimah kata tanpa melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya dalam penggunaan lafadh Ashobi’ahum dalam ayatYaj’aluun Ashobi’ahum fi adzaanihim dalam surat Al Baqoroh. Kata ashobi’ahum tersebut tidak dima’nai sebagai “jari-jari mereka”, tapi dima’nai sebagai “ujung jari-jari mereka”. Karena gak mungkin kan memasukkan jari ke telinga, yang mungkin memasukkan ujungnya saja. Dalam ayat tersebut, ilmu Bayan menamainya dengan nama Majas, sering disebut termasuk bab min ithlaaqil kul wairodatil juz , yang disebutkan adalah bentuk keseluruhan jari-jari, tapi yang dimaksud adalah sebagian ujung jari-jari. 3. Ma’ani Mirip dengan ilmu Bayan, ilmu ini juga terasa lebih sukar. Pembahasan ilmu ini lebih ke penambahan ma’na yang timbul karena terjadi perubahan susunan kalimah bahasa arab. Jadi, ilmu ini tidak hanya membahas satu kalimah saja, tapi melihat hubungannya dengan kalimah yang lain. Misalnya pembuangan Mubtada dari struktur Mubatada Khobar dalam bahasa arab. Salah satu ma’na yang timbul adalah untuk Memuliakan objek yang ditunjuk oleh Mubtada tersebut. 4. Nahwu Ilmu ini mungkin yang lebih sering terdengar berpasangan dengan ilmu Shorof. Biasanya orang bilang ilmu Nahwu Shorof. Memang fenomena itu sudah dari dulu diungkapkan oleh ulama dahulu. Para ulama bahkan menyebutkan bahwa As Shorfu Ummul Ulum wa Nahwu Abuha. Ilmu Shorof adalah ibunya segala ilmu dan Ilmu Nahwu adalah bapaknya. Ilmu ini membahas gramatikal bahasa arab seperti bagaimana status jabatan kalimah kata dalam suatu kalam kalimat. Apakah dia menjadi Fa’il pelaku/subjek, Maf’ul objek, Na’at sifat, dan lainnya. Seperti halnya ilmu Ma’ani, ilmu ini otomatis membahas keterkaitan suatu kalimah dengan kalimah yang lainnya. Contohnya lafadh Ar Rohman pada bacaan basmalah adalah Na’at dari lafadh Jalalah Allah. Kitab yang biasa digunakan untuk mengkaji ilmu Nahwu adalah Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyyah, Kifaayatul Ashab, dan lain-lain. 5. Qofiyah Fan ilmu ini mengatur bagaiman ujung satar awal harus sama dengan ujung satar tsani dalam suatu bait. Satar adalah potongan setengah bait dari suaatu nadhm. Misalnya kita punya suatu Nadhm Al Hamdulillahil ladzi qod waffaqo Lil ilmi khoiro kholqihi wa lit tuqo Dari bait di atas, satu satar adalah dari Al Hamdulillah sampai waffaqo. Yang saya contohkan adalah Bahar Rojaz dimana satar awal harus sama rimanya dengan satar Tsani. Tapi, di bahar yang lain ketentuan itu berbeda. 6. Syi’ir Ilmu ini membahas tentang bagaimana cara membuat suatu Syi’iran tentunya dalam bahasa arab. 7. Arudl Nah, tadi kita sedikit menyinggung masalah bahar. Dalam ilmu inilah istilah Bahar itu dipelajari. Bagaimana suatu nadhm bisa disusun dengan menggunakan enam belas bahar yang sudah ada. Salah satu kitab yang saya tahu adalah Mukhtashor Syafi. 8. Isytiqoq Pencetakan suatu lafadh dari lafadh yang lain adalah objek kajian ilmu ini. Jika kita ingin tahu, sebenarnya lafadh Allah-pun dicetak dari lafadh Ilahun setelah melalui perubahan-perubahan. Demikian pula dengan lafadh-lafadh yang lain. Dalam pembahasan di bab-bab artikel saya kedepan nanti, ilmu ini juga akan di dapatkan dalam praktiknya. 9. Khot Tulisan bahasa arab pun ada tata cara penulisannya. Nah, tata cara penulisan tersebut menjadi kajian ilmu ini. Dalam bahasa arab ada standar tujuh jenis tulisan, yaitu Naskhi, Kufi, Tsulusi, Riq’ah, Diwani, Diwani Jali, dan Farisi. 10. Insya’ Ilmu ini membahas bagaiman membuat suatu kalam kalimat yang benar dalam bahasa arab. Biasanya latihan ilmu ini adalah dengan menyusun kalam dari runtutan kalimah yang sembarang. 11. Munadzoroh Kadang kala kita perlu ber-Munadhoroh argumen dengan pendapat orang lain. Nah, supaya argumen yang diungkapkan sesuai dengan aturan, dibuatlah ilmu ini. 12. Lughoh Ilmu ini membahas tentang mufrodat kosa kata dalam bahasa Arab. Semisal vocabulary dalam bahasa Inggris. Itulah sedikit penjelasan mengenai 12 fan ilmu yang saya tahu. Jika ada yang pernah mendengar versi yang lain, silakan ditulis di sini dengan memberi komentar. Sejatinya, tidak hanya ilmu itu saja yang harus kita pelajari, masih banyak dan tidak akan bisa hitung jumlah ilmu yang harus kita pelajari, baik itu ilmu agama maupun sains. Semoga Allah meng-Istiqomah-kan kita agar tetap setia menjadi Thoolibul Ilmi. Karena keutamaan yang Allah tawarkan sangatlah besar bagi orang pencari ilmu. وكن مستفيدا كل يوم زيادة * من العلم واسبح في بحور الفوائد
404 Tak ada apa pun di sini! Maaf, halaman yang Anda cari di blog ini tidak ada. Beranda
BANDUNG - Panglima Santri Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum mengaku geram dan terusik dengan adanya pernyataan terkait pondok pesantren ponpes yang dipandang sebagai produk dari orang-orang radikal. Justru menurutnya, ponpes sangat berjasa dalam melahirkan generasi yang mampu mengamalkan Pancasila. Pak Uu mengungkapkan, radikalisme merupakan tindakan memaksakan pandangan maupun kehendak yang dilakukan oleh individu maupun kelompok tertentu, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Baca juga Ada Momen Istimewa Akan Digelar Pondok Pesantren Sebelum Kebakaran Terjadi, Ditunggu-tunggu Santri Untuk itu, ia mengatakan sangat tidak tepat jika menyandingkan ponpes sebagai bentuk tindakan radikal. “Yang dinamakan radikal itu seseorang ataupun kelompok yang memaksakan kehendak maupun keinginan, yang bertentangan dengan agama dan darigama. Menghalalkan segala cara, yang penting mereka berhasil tujuannya,” ujar Pak Uu saat ditemui di Kabupaten Indramayu, Selasa 15/3/2022. “Saya sebagai kelompok pesantren, tersinggung dan tidak terima pesantren disebut produk orang radikal. Justru produk pesantren adalah orang-orang yang berjasa terhadap bangsa dan negara, terutama dalam implementasi Pancasila,” tuturnya. Pak Uu juga sangat tidak sepakat dengan pernyataan pendeta Saifuddin Ibrahim terkait 300 ayat Al Qur’an yang harus dihapus atau direvisi karena mengandung nilai-nilai radikalisme. Baca juga Cerita Santri Pondok Pesantren di Karawang yang Terbakar, Peristiwa Terjadi Saat Jam Istirahat Menurut Pak Uu, umat muslim tidak memiliki kebebasan untuk menafsirkan sendiri ayat-ayat Al Qur’an. “Umat Islam saja tidak diberi kebebasan untuk menafsirkan sendiri, apalagi nonmuslim seperti pendeta,” tegasnya. Untuk menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an, kata Pak Uu, tidak cukup dengan tekstual saja, tapi juga konteksnya pun harus dipahami dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Para ulama juga minimal harus paham 12 fan bidang ilmu agama Islam, yang membutuhkan waktu sedikitnya 12 tahun dalam mendalami dan memahaminya. “Untuk mempelajari 12 fan ilmu Islam itu di pesantren saya butuh 12 tahun. Dan selama 12 tahun itu tidak bisa dengan mandiri, harus ada sampingan ilmu yang lain,” sebut Pak Uu. Baca juga Polemik Ada 198 Pondok Pesantren Terafiliasi Organisasi Teroris Termasuk ISIS, Kepala BNPT Temui MUI “Karena Al Qur'an adalah kitab suci yang sangat luar biasa, jadi orang yang menafsirkannya pun jangan orang yang biasa-biasa, harus orang yang luar biasa ilmu agamanya,” imbuhnya. Lebih lanjut Pak Uu berharap agar masyarakat di Jabar tidak terprovokasi pemberitaan di media terkait hal tersebut. Masyarakat juga diminta lebih kritis lagi dalam menerima informasi dan tidak mudah percaya pada penjelasan pendeta Saifuddin yang dinilainya sudah menyakiti hati muslim. “Tolong jangan menghina kitab suci kami, karena ini akan membuat luka hati umat mayoritas. Umat yang baik adalah umat yang menjaga agamanya sendiri. Menjaga agama sendiri bukan berarti harus menyerang agama yang lain,” kata Pak Uu. “Saya harap masyarakat jangan terjebak dengan statement itu, atau terkecoh dan mengiyakan apa yang disampaikan oleh pendeta tersebut. Kita tetap saja sebagai umat Islam, pegang apa yang disampaikan oleh para kiai dan ulama,” katanya.
12 fan ilmu santri